Tampilkan postingan dengan label Seputar ASI dan Artikel ttg Makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar ASI dan Artikel ttg Makanan. Tampilkan semua postingan

10 Mitos Pola Makan Pada Anak

10 Mitos Pola Makan Pada Anak

Apa iya, makanan bayi buatan pabrik lebih bagus dibanding buatansendiri? Apa iya, lebih bagus mengenalkan sayuran dulu dibanding buah? Apa iya, anak cuma suka makanan yang itu-itu saja? Bingung deh. Apalagi jika orangtua, teman, atau tetangga, memberi saran berbeda-beda. Yuk,
Teliti mana yang mitos dan mana yang fakta!

1. Mitos : Jika bayi mengalami sembelit saat disususi susu formula, ganti susu itudengan yang
rendah zat besi.
Fakta : Jumlah zat besi dalam susu formula tidak mempengaruhi fungsi pencernaan usus
bayi. Bahkan memberi susu formula rendah zat besi bisa menyebabkan bayi anemia,
yang bisa menurunkan kemampuan bayi belajar. Meski ASImengandung lebih sedikit zat besi, namun zat besi ini lebih mudah diserap dalam saluran pencernaan bayi. Sebaliknya, zat besi susu formula tak mudah diserap, sehingga mesti ditambahkan lebih banyak agar bayimemperoleh cukup zat besi. Jika bayi mengalami sembelit, diskusikan dengan dokter untuk menambahkan sedikit jus buah ke dalam menu makannya.

2. Mitos : Kalau mau mengenalkan makanan padat, gunakan makanan botolan, karena lebih sehat.
Fakta : Makanan bayi yang dikemas dalam botol gelas memang lebih praktis dan sehat.
Namun ini tidak mengandung zat-zat gizi yang lebih istimewa dibanding makanan buatan sendiri. Meski membuat makanan sendiri lebih butuh banyak waktu dan tenaga, namun ini lebih bagus sebab bayi akan kenal dengan citarasa baru yang nantinya akan sering makin familiar saat ia bertambah besar.

Awalnya, cobalah sajikan pure apel yang dimasak matang. Bisa juga pure buah pir, wortel, jagung, kentang, kacang hijau, atau kacang polong. Kita juga bisa mengenalkan pisang atau avokad yang masak. Bayam, bit, labu, sebaiknya baru diberikan setelah bayi berusia 8 bulan, karena mengandung senyawa nitrat, yang bisa mengganggu suplai oksigen oleh darah ke dalam sel-sel tubuh. Saat usia bayi 9 bulan, ia bisa mulai makan daging ayam, ikan, daging sapi, dan makanan dari kedelai seperti tempe atau tahu, yang sudah dicincang. Jangan sajikan sup kalengan, daging proses (kornet, sosis, sarden) atau makanan beku seperti nugget kepada anak di bawah 1 tahun. Kandungan garam dan zat-zat aditif yang tinggi dalam makanan ini susah dicerna bayi.

3. Mitos : Tidak baik jika anak makan daging atau telur secara teratur.
Fakta : Bagi orang dewasa, memang sebaiknya mengurangi makan daging atau telur. Namun
tidak demikian untuk anak. Daging dan telur adalah sumber protein yang sangat bagus dan memberi banyak zat besi serta mineral seng, yang penting bagi tumbuh kembang anak. Namun hindari daging fastfood, misalnya burger. Lebih baik, buat daging panggang atau bakso sendiri di rumah. Jika hendak menyajikan telur, berikan yang kuning telurnya sudah matang dan padat, bukan setengah matang. Untuk mengurangi alergi, tunda pemberian putih telur sampai usia si kecil 1 tahun.
4. Mitos : Jika anak menolak makanan, jangan sajikan makanan itu lagi!
Fakta : Beberapa penelitian menunjukkan, batita bisa saja perlu disajikan makanan yang sama
sampai 15 kali sebelum ia mau memakannya. Jika batita menolak makanan yang kita sajikan, jangan diambil hati. Reaksinya bisa jadi lebih karena terkejut, bukan karena tidak menyukai. Dan biasanya batita menolak makanan baru karena tekstur atau aromanya, bukan rasanya. Cobalah sajikan lagi. Bagus juga jika ibu menyajikan makanan baru yang berbeda selama beberapa kali. Untuk mengurangi penolakan, sajikan makanan baru bersama makanan lama yang jadi favoritnya.

5. Mitos : Anak suka makan makanan yang sama lagi dan lagi.
Fakta : Jika batita menyukai makanan tertentu selama berhari-hari atau berminggu-minggu,
mungkin kita bepikir mitos itu benar. Anak memang suka mengulang makan makanan yang sama. Namun anak juga punya naluri yang kuat untuk mencoba citarasa baru. Makin banyak anak ditawari jenis makanan, makin suka pula ia dengan makanan-makanan itu. Jadi, sajikan sayur-sayuran, buah, atau jenis daging yang baru kepadanya, dengan cara yang agak beda. Misal, taburkan daging ayam yang disuwir-suwir ke dalam salad buah. Taburkan keju atau saus dressing ke atas brokoli kukus.
Atau tambahkan wortel pada saus spaghetti. Ajaklah anak ke supermarket dan biar ia memilih sayuran mana yang disukainya, lalu masaklah bersama-sama. Anak pasti akan menghargai dan menyukai sayur yang dipilihnya sendiri. Bisa juga, tanamlah sayur-sayuran di halaman rumah bersama anak, sehingga saat nantinya dipetik dan dimasak, anak menyukainya.

6. Mitos : Lebih baik mengenalkan sayur lebih dulu, bukan buah. Kalau tidak, rasa manis buah
akan membuat anak tak suka sayur.
Fakta : Tak ada bukti kalau memberikan buah lebih dulu akan menurunkan minat anak makan
sayuran. Namun apapaun yang ibu kenalkan lebih dulu, kenalkan makanan baru secara bertahap. Cobalah makanan yang berbeda setiap 3-4 hari, lalu monitor si kecil untuk memastikan ia tdk mengalami ruam/sakit perut, yg merupakan tanda2 alergi.

7. Mitos : Anak-anak tidak memerlukan suplemen.
Fakta : Umumnya orang beranggapan, pola makan yang sehat akan menyuplai anak semua zat
gizi yang ia perlukan. Namun menurut studi di AS saja, 50% anak di sana kekurangan minimal satu jenis vitamin atau mineral, dan 11% anak malah agak anemia. Cobalah diskusikan dengan dokter mengenai suplemen multivitamin dan mineral yang cocok untuk anak. Jika anak memang membutuhkan, belilah suplemen yang memberikan kandungan vitamin atau mineral antara 50-150% RDA (kecukupan harian yang dianjurkan).

8. Mitos : Batasi jumlah makan anak supaya ia tidak kegemukan.
Fakta : Anak-anak umumnya bagus dalam mengontrol pemasukan makan mereka. Membatasi
porsi makan anak malah justru berdampak negatif. Jika anak terbiasa lapar secara rutin, mereka pun akan belajar untuk mengenyangkan diri kapan saja saat tersedia banyak. Ini malah bisa menjadi kebiasaan yang menimbulkan problem berat badan. Bagi anak yang memang kelebihan berat badan, tetap sajikan makanan yang tinggi kalori seperti makaroni, keju, cake, namun batasi jumlahnya saat makan besar. Tambahkan lebih banyak buah dan sayuran, sehingga anak tetap
merasa kenyang. Selalu ajak juga anak untuk berolah raga bersama.

9. Mitos : Jangan memaniskan sayuran (misal dengan menambahkan gula). Nanti anak tidak mau
makan sayuran yang tawar.
Fakta : Sayuran membantu melindungi anak dari sembelit, kanker, dan penyakit jantung, dan
kita sebaiknya mendorong anak untuk mengonsumsinya, dengan berbagai cara yang kita bisa. Jika anak terbiasa makan sayuran secara teratur, ia nantinya akan menyukai sayuran, meski rasanya tak manis. Jadi, tak perlu merasa bersalah untuk menambahkan sedikit gula pada kacang-kacangan atau polong-polongan, susu pada brokoli, atau madu pada labu atau buncis. Kita juga bisa menggunakan taktik yang sama pada buah. Irislah kiwi atau nanas dan tutupi dengan gula berwarna atau madu.
Sejumlah kecil gula ini tak akan menimbulkan karies gigi, jika diberikan bersama makanan yang sehat dan bukan sebagai cake.

10. Mitos : Supaya anak tak mengalami karies gigi, sebaiknya jangan mengenalkan makanan manis
sejak kecil.
Fakta : Melarang anak makan yang manis2 justru tindakan yang salah. Ini hanya membuat
anak makin ingin makan makanan manis itu. Lebih bagus, ajarkan kepada anak bahwa sesekali makan makanan bergula seperti cookie atau permen bisa menjadi bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan. Namun jg menyetok makanan2 itu dlm kulkas atau lemari makan. Lebih baik sediakan kismis, buah segar, yogurt buah, jeruk, pir, melon, cracker yg tdk manis, roti tawar dari biji gandum utuh, susu pasteurisasi, dan semacamnya. Berikan sebagai cemilan atau dessert. Jika anak terbiasa makan cookie, donat, atau permen, anak mungkin akan menolak cemilan-cemilan ini, namun tetapkah sajikan dengan konsiten. (TG)

Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya

Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya
APLNews Edisi 18

Masa pemberian makan pertama pada anak batita (bayi di bawah tiga tahun-red) yaitu biasanya ketika memasuki usia 6 bulan terkadang menimbulkan reaksi penolakan. Salah satu reaksi penolakan seperti fenomena gumoh hingga muntah. Alhasil, Ibu pun dibuat bingung menghadapi
prilaku anak di bawah setahun yang kerap kali memuntahkan makanan yang baru saja disuapkan. Bila si ibu kurang sabar dan tidak telaten, peristiwa yang dalam istilah jawa disebut gumoh ini, terkadang membuat si ibu jengkel. Padahal terdapat perbedaan antara gumoh dan memuntahkan
makanan. Karena terjadi pada usia yang masih kecil, hingga perbedaan ini tidak begitu terlihat, untuk itu orang tua perlu mengetahui perbedaan antara gumoh dan muntah.

Menurut Dr. Kishore R.J, dari - Poliklinik Anak RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, fenomena gumoh terjadi pada semua bayi usia di bawah setahun, begitu setahun lewat kejadian ini berhenti. Namun terkadang, menurutnya ada pula diusia di atas 6 bulan pun gumoh sudah mulai berkurang. Kecuali bayi-bayi di bawah 6 bulan, terutama bayi yang baru lahir. "Sebenarnya, soal gumoh ini tak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya saja orang tua harus tahu apa penyebabnya dan kemudian segera mengatasinya,"ujar Dr. Kishore.

Beda Gumoh dan Muntah
Apa sebenarnya yang menyebabkan bayi anda mengalami gumoh ? Masih menurut Dr. Kishore, gumoh terjadi karena ada satu organ, yang berfungsi untuk menyalurkan makanan ke lambung, berbentuk seperti cincin yang fungsinya seperti klep, belum sepenuhnya berfungsi sempurna. "Sehingga bila si bayi minum, terus ditidurkan, lalu ngulet...nah kemudian ada cairan yang keluar. Pada saat makanan keluar, bayi refleks untuk memuntahkan yang kita kenal dengan istilah gumoh,"terangnya. Menurutnya beda antara muntah dengan gumoh yang keluar sedikit-sedikit, muntah keluar dengan sekuat tenaga dan disertai mual-mual.

Adakalanya gumoh terjadi bila bayi merasa kesal karena tak bisa menelannya hingga ia pun menangis. "Seringkali bila hal ini terjadi, pengasuh atau orang tua malah memaksakan pemberiannya. Misal, dengan menaruh si bayi di posisi mendatar, lalu mencekoki makanannya. Otomatis bayi akan membatukkannya hingga terjadi muntah. Peristiwa ini berbahaya sekali, karena saat itu makanan bisa masuk ke saluran napas dan menyumbatnya hingga berakibat fatal,"ujar Kishore memperingatkan. Mengomentari terjadinya gumoh ini, dr. Kishore berpesan, bahwa gumoh adalah gejala alami sangat natural dan terjadi pada setiap bayi, sehingga kita tidak bisa mencegahnya. "Yang bisa kita cegah adalah komplikasinya,"demikian terang Dr. Kishore. Yang berbahaya dari gumoh itu menurutnya seandainya, bila ada air susu yang masuk ke lambung. Di lambung itu ada asam lambung, sehingga susu itu bercampur dengan asam lambung. Kalau itu keluar, dari mulut atau dari hidung, posisi bayi segera dimiringkan atau ditengkurapkan biar tidak tertelan masuk ke paru-paru. Kalau masuk ke paru-paru itu yang bahaya !

Untuk meminimalkan gumoh, Dr. Kishore menyarankan, pada saat pertengahan pemberian minum, kalau perlu disendawakan supaya udaranya keluar baru si (bayi) minum. Tapi itu tidak menjamin tidak akan terjadi gumoh Gumoh tidak disebabkan oleh minuman/makanan tertentu, namun untuk muntah mungkin saja dipicu oleh makanan, misalnya ada makanan yang terlalu asam, ada yang terkontaminasi bakteri, ada yang keracunan, semua itu bisa menyebabkan muntah, tapi tidak gumoh.

Makan Dipaksa, Picu Trauma
Bila anak kerap muntah saat diberi makan, kemungkinan ada beberapa faktor, yang menyebabkannya. Yang sering terjadi adalah feeding problem atau problem pemberian makan. Khusus menyoroti feeding problem ini, biasanya terjadi dalam keluarga yang kedua orang tuanya bekerja sehingga anak diasuh oleh baby sister-nya. Saat ke dokter dan diketahui bobot anak berkurang akhirnya si baby sister di beri tugas memperbaiki bobot anak.

Biasanya yang terjadi kemudian, adalah menempuh cara paksa, peristiwa tersebut malah membuat anak trauma,"Melihat makanan aja sudah membuat anak ingin muntah. Wah, dijejelin lagi nih, begitu pikir anak, jadi itu salah satu penyebabnya,"tambah Kishore.
Selain trauma, penyebab kedua anak susah makan adalah penyakit. Untuk yang satu ini memang harus ditangani oleh dokter. Kemudian yang ketiga adalah faktor psikologi, yaitu si kecil merasa makan itu bukan urusannya. Kondisi ini terjadi ketika seluruh anggota keluarga menyuruh si kecil untuk makan, bapak, ibu, kakek, nenek, om, tante semua menyuruh makan, hingga si kecil berpikir makan bukanlah urusannya. Hal ini juga bisa membuat anak muntah-muntah, karena punya riwayat waktu kecil sering dipaksa.

Seharusnya orang tua membiasakan mengajak anak duduk bersama sewaktu bapak dan ibunya makan. Mungkin selama acara makan berlangsung, mejanya makan akan berantakan dengan ulahnya. Kebanyakan yang terjadi adalah, orang tua memarahi anak. Ini bisa membuat anak trauma.
Asalkan anak tidak mencoba meraih sambal, lebih baik orang tua membiarkan saja anak mengambil makanan yang mau dicobanya. Dengan mengajaknya makan bersama justru mengajarnya mandiri. Cara makan bersama keluarga atau makan bersama teman sebaya akan lebih efektif merangsang
anak untuk makan dibanding dengan cara paksa / menjejelin yang malah membuatnya trauma, karena anak akan berpikir makan bukanlah urusannya.

Beri makan secara bertahap
Dr. Kishore menyarankan untuk usia 4-6 bulan pertama, bila mungkin cukup diberi ASI eksklusif saja tanpa pemberian makanan tambahan atau susu formula. Tapi kalau satu dan lain hal ASI tidak bisa diberikan, maka selama 4 bulan pertama bayi diberikan susu formula, tanpa makanan padat !
Setelah 4 bulan, baru mulai diperkenalkan makanan di luar susu, yang lebih dikenal dengan makanan pendamping, karena memang belum menjadi makanan pokok. Hingga bayi berusia setahun, susu -baik ASI maupun bubuk- tetap menjadi makanan pokok. Buah dikategorikan sebagai makanan pendamping jadi porsinya hanya untuk memperkenalkan saja.

Setelah 6 bulan, baru kita bisa mulai dengan bubur tim yang dapat dicampur dengan ayam, hati ayam dan sayur. Kemudian kita juga dapat memodifikasi rasa di luar manis. Kalau selama 6 bulan ia hanya kenal yang manis kecuali buah, kita kenalkan dengan yang tidak manis.

Setelah setahun, baru kita harapkan balita boleh memakan bubur lembek, makanan tidak perlu diblender lagi. Nah, setelah setahun makanan pokok bayi bukan susu lagi, susu diberikan maksimal 3 kali.


Faktor Penyebab Gumoh dan Muntah pada Bayi:
1. Refleks Menelan Belum Bagus
Bila karena refleks menelannya memang belum bagus, terang Kishore lebih lanjut, ketika
makanan ditaruh di bagian depan lidahnya, si bayi berusaha menelannya dengan menjulurkan
lidahnya. Namun bukannya bisa masuk, malah makanannya jadi keluar lagi. Seperti halnya bayi
mau belajar merangkak, kadang jalannya bukannya maju malah mundur karena koordinasi
motoriknya belum bagus. Sementara kalau dia mengisap ASI, tak jadi masalah, karena puting
ada di belakang lidahnya. "Tentunya tak mungkin kita taruh makanan di belakang lidahnya,
bukan?"
Refleks menelan ini, papar Kishore, akan membaik dengan sendirinya. Tergantung kemampuan
masing-masing bayi dalam menelan. Umumnya di atas usia 6 bulan. Jika refleks menelannya
belum baik dan bayi belum bisa menelan makanan padat, kita bisa mengatasinya dengan
mengencerkan lagi makanannya dengan cara memblender hingga mudah baginya untuk menelan.

2. Tak Kenal Dengan Makanannya
Jika bayi tak kenal atau tak suka dengan makanannya, baik yang semi padat ataupun padat,
tentu akan ditolaknya. "Selama ini makanan yang diterima bayi selalu dalam bentuk cair.
Sementara kini dia mulai mendapatkan makanan yang agak kental, semisal bubur susu, atau
Makanan agak padat, semisal nasi tim. Nah, karena tak kenal, pasti awalnya akan ditolaknya,"
papar Kishore.
Bila demikian kejadiannya, pemberiannya harus dimundurkan dengan cara agak diencerkan lagi.
"Jangan memaksakan bayi dengan kemauan kita karena akan membuatnya trauma. Bisa jadi
setiap kali melihat mangkuk makanan, dia jadi menangis karena takut dijejalkan."

3. Rasanya Berbeda
Ada pula bayi yang menolak nasi tim karena rasanya yang berbeda. Jangan lupa, selama 6 bulan
pertama, bayi kenalnya hanya rasa manis. Nah, nasi tim tak manis seperti halnya bubur susu,
kan? Jadi, ada kemungkinan dia tak suka karena rasanya tak manis. Kalau bayi tak suka karena
tak mengenal rasa nasi tim tersebut, bisa diupayakan agar si bayi belajar mengenal rasa. Jadi,
rasanya yang harus diubah dan divariasikan. Misal, awalnya nasi tim tersebut diberi tambahan
glukosa atau yang paling mudah adalah kecap manis, hingga rasa nasi tim tersebut masih ada
manisnya. Semakin lama, kecapnya agak dikurangi hingga bayi mengenal rasa nasi tim yang lain.
Muntah juga bisa terjadi, misal, karena bayi kekenyangan makan atau minum ataupun karena
bayinya mengulet hingga tekanan di perutnya tinggi, akibatnya susunya keluar lagi.

4. Gangguan Sfingter
Sementara bila karena ada gangguan di saluran cernanya, kita tahu bahwa pada saluran
pencernaan itu ada saluran makan (esopnagus), yang berawal dari tenggorokan sampai lambung.
pada saluran yang menuju lambung ini ada semacam klep atau katup yang dinamakan sfingter.
Fungsinya untuk mencegah keluarnya kembali makanan yang sudah masuk ke lambung.
Umumnya sfingter pada bayi belum bagus dan akan membaik dengan sendirinya sejalan
bertambahnya usia. Umumnya di atas usia 6 bulan. Namun, adakalanya di usia itu pun si bayi
masih mengalami gangguan. Jadi, sifatnya sangat bervariasi. Tentunya, kalau sfingter tak bagus,
maka makanan yang masuk ke lambung bisa keluar lagi. Gejalanya biasanya kalau pada bayi akan
lebih sering gumoh, terutama sehabis disusui.
Apalagi bila ia ditidurkan dengan posisi telentang. Ingat, cairan selalu mencari tempat yang
paling rendah, bukan? Begitupun bila setiap kali diberi makanan padat muntah, harus dicurigai
sfingter-nya tak bagus. Apalagi bila berat badan bayinya tak naik-naik, misal selama 1-2 bulan.
Kadang ada juga sfingter dengan gangguan, yang disebut hipertropi pylorus stenosis, yaitu
adanya otot pylorus yang menebal hingga makanan akan susah turun dari lambung ke usus,
akhirnya keluar muntah.
Gejalanya, tiap kali diberikan makanan padat akan muntah. Tapi kalau makanan cair tidak. Selain
itu, berat badannya pun sulit naik. Jika gangguannya berat, makanan cair pun biasanya tak bisa
lewat, hingga menganggu pertumbuhan si bayi karena tak ada penyerapan makanan.
Biasanya kalau kejadiannya demikian, harus dilakukan tindakan operasi secepatnya untuk
memperbaiki klepnya hingga saluran makanan dari lambung ke usus bisa jalan dengan lancar.
Namun kalau gangguannya ringan saja, misal, muntahnya jarang dan setelah dilakukan
pemeriksaan dengan rontgen atau USG ditemui hipertropi sfingter ringan, berat badan anak
tetap naik. Biasanya kalau kasusnya demikian, tindakan operasi bisa ditunda. Diharapkan dengan
bertambahnya usia, bayi mulai berdiri tegak hingga makanan lebih mudah turun.


Tips Menghadapi Bayi Muntah
Jika bayi muntah, saran, cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke saluran napas yang dapat menyumbat dan berakibat fatal.

Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tak perlu khawatir. "Ini berarti muntahnya keluar. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru- paru dan menyumbat jalan napas. Jika ada muntah masuk ke paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa, kecuali membawanya segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut."

Menyiasati Anak Sulit Makan

Menyiasati Anak Sulit Makan
Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
Jakarta, 8 Maret 2002


Ibu : "A lagi ya, satu lagi aaanya, yah satu lagi yah"
Anak : "Nggak mau, udah kenyang"
Ibu : "Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya,
tinggal sedikit kan. Satu lagi
Anak : "Nggak mau ah, udah kenyaaaaaaaaaaaang"

Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat familiar di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti hamburger, fried chicken, french fries), dan makanan yang tasty (misalnya chiky, cheetos) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.

Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?

Komponen Utama Sumber Energi
Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.

Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).

Bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.

Mengapa Anak Menolak Makan?
Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu
Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan yaitu :

1. Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan
nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar.
2. Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri.
3. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua
4. Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut.
5. Menu tidak bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk makanan tidak menarik.
6. Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman.
7. Anak sedang sakit

Sementara itu, bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa :
a. Memuntahkan makanan
b. Makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.
c. Sama sekali tidak mau makan.
d. Menumpahkan makanan.
e. Menepis suapan dari orangtua

Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua
Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya :
- Membujuk. Misalnya dengan kata-kata: "makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti
popeye", "kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa
pintar loh", dll.
- Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main.
- Memberi janji, misalnya: "kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream"
- Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh"
- Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan
- Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar.
- Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu.

Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua
Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.
Lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membuat anak mau makan dan tidak kekurangan sumber energi yang dibutuhkan tubuhnya? Berikut ini beberapa saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak yang sulit makan :

1. Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan.
Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu
makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih
diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga
tidak terjadi obesitas.
2. Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.
3. Mempercantik tampilan makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.
4. Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa "anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru".
5. Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
6. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
7. Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
8. Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
9. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
10. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat perlu lagi memaksa anak untuk makan

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat. Tulisan ini mungkin dapat menjadi suatu informasi yang berguna bagi anda para orangtua yang peduli terhadap kesejahteraan anaknya. Selamat mencoba.

Konsep pemberian makan pada bayi

Konsep pemberian makan pada bayi


1. TRAINING
Makan pada anak bukan sekedar memberikan kalori dan nutrisi tetapi juga merupakan proses berlatih dan mengenal dunia. Berlatih menelan, berlatih mengenal rasa. Usahakan anak makaan tidak digendong2 sambil pengasuhnya berjalan jalan. Latih makan di tempat makan sehingga dia akan mengerti bila saatnya makan tiba, dia harus duduk/didudukkan. Jangan biasakan makan sambil menonton TV

2. ENTERTAINING
Seyogyanya makan merupakan moment yang menyenangkan oleh karena itu - jangan ada unsur pemaksaan (dicekok). Kalau anak sudah bisa duduk tegak dengan dibantu ditopang, dudukkan di kursi bayi (high chair) setiap malam untuk menikmatai suasanan makan malam bersama orang tuanya.
Bukan untuk benar2 makan tetapi tetap berikan piring dan sendok. Sehingga kalau dia besar nanti dia akan senantiasa merindukan suasana kebersamaan pada saat makan malam Masak makanan jangan sekaligus, di tempat terpisah. Demikian juga piringnya berkotak2 agar ada tempat khusus untuk karbohidrat-protein, untuk sayur, dan untuk kuah

3. VARIETY
Makanan harus bervariasi. Biasakan membuat menu harian untuk satu minggu. Yang harus diperhatikan - komposisi makanan itu harus 4 sehat lima sempurna - jenisnya bervariasi selama memenuhi komposisi tersebut.

4. HEALTHY
Makanan yang mengandung semua komposisi yang dibutuhkan bayi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral). Upayakan makanan buatan sendiri sehingga senantiasa segar tanpa pengawet dan tanpa pemberi rasa artificial/kimiawi. Pada saat memberikan sayur, jangan dicampur dengan
makanan lainny sehingga anak sejak dini sudah mengenal rasa sayur. Sayur ada;ah makanan sehat dan bajnyak anak Indonesia tidak suka makan sayur.
Hal ini sangat disayangkan. Oleh karena itu penting memperkenalkan sayur sejak dini. Hindarkan pemakaian garam kalau bisa sampai usia 1 tahun. Bayi juga jangan dibiasakan makan makanan yang manis/gula. Usia 6 bulan makanan lembut tetapi sesudah itu berangsur angsur menjadi kasar. Usia 1 tahun sudah dapat mengkonsumsi makanan kita. Jangan berikan snack karena dapart mengurangi nafsu makan saat makan besar. Kalaupun akan memberikan snack - berikan yang sehat (buah, sayur mis timun, labu siam kukus, wortel).
Setiap memperkenalkan makanan baru, satu saja jangan diberikan lebih dari satu makanan baru dalam 1 hari. Kalau bayi mengalami reaksi alergi kita bisa mengetahui dengan pasti terhadap apa dia alergi.


5. JADWAL
Makan 3 kali sehari, pagi - siang - malam/sore. Pagi makanan setengah berat (bubur susu, oat meal, roti, biskuit) Siang buah padat dicampur susu (alpukat, apel kukus, pear kukus, labu kuning/pumpkin kukus) Sore - makan berat. Kentang kukus dengan susu dan parutan keju (mashed potato), ubi kukus dihaluskan tambah susu, jagung sisir kukus tambah susu dan keju, nasi (tim) Selingan satu kali (pagi atau sesudah makan siang) air buah

6. JENIS MAKANAN BERDASARKAN KOMPOSISI MAKANAN SEHAT
a. Karbohidrat
Tepung beras, tepung maizena, biskuit, kentang, ubi merah, jagung, makaroni, roti, oat meal,
nasi (bubur atau tim)
Cara masak : tepung dimasak dengan air sampai matang baaru masukkan susu (formula atau ASI) Kentang, ubi, jagung manis disisir, dikukus. Haluskan, campurkan susu, tambahkan parutan keju Roti tambaah susu, blender Oat meal dimasak dengan air sampai lembut. Matikan api masukkan susu

b. Protein – lemak
Susu, yoghurt, kuning telur (ambil setelah telur direbus), keju parut, kacang merah, kacang
hijau, tempe, tahu, ayam cincang (tanpa kulit), daging cincang (pilih daging tanpa lemak, cincang
sendiri), ati, ikan.
Cara masak : Yoghurt dimakan dengan buah Ayam/daging dan tahu tempe dimasak bersama
makaroni atau dikukus, campurkan dengan kentang, jagung.
Buat sup bening biasa (ayam/daging), sup krim jagung, sup kacang merah/hijau, blender, campur
susu.

c. Vitamin – mineral
BUAH : pisang, jeruk, pepaya, pear, apel, melon, semangka, mangga, alpukat
SAYUR : kacang polong, wortel, brokoli, bayam, labu siam, kangkung, buncis, kembang kol,
sawi hijau
Cara masak : Pear, apel, dikukus, sayur dikukus, dihancurkan, atau di blender


7. MAKANAN PADA KONDISI KHUSUS
Diare : makanan tanpa sayur (tanpa serat) 2-3 hari
Muntah : makanan volume lebih sedikit tetapi lebih sering. Kalau perlu susu diencerkan sedikit
(supaya tidak mual) Panas dan pasien tak mau minum atau seriawan: susu agak diencerkan,
air buah, jus buah agak kental buat sebagai es batu. Kalau di atas 6 bulan, bubur kacang
hijau dengan susu, blender, buat es. Fruit milk shake - buah dengan es krim vanilla dan
susu, diblender (kalori besar, sama dengan satu mangkok nasi). Puding dingin dengan susu
dan telur kuning.

Resiko pemberian makanan terlalu dini

Resiko pemberian makanan terlalu dini
Resiko Pemberian MPASI Terlalu Dini
(sumber : milis _SEHAT_)
(Dirangkum & ditulis bebas oleh Luluk Lely Soraya I, 26 March 2005)


Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) di usia < 6 bl. Bahkan banyak dari kita tidak pernah tahu mengapa WHO & IDAI mengeluarkan statement bahwa ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan air putih sekalipun) diberikan pada 6 bl pertama kehidupan seorg anak. Kemudian setelah umur 6
bulan anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur susu, nasi tim, buah, dsb.

Alasan menunda pemberian MPASI

Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak sampai ia berumur 6 bl ?!
Kalo jaman dulu (baca : sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bl) umur 4 bl aja dikasih makan bahkan ada yg umur 1 bl. Dan banyak yang berpendapat gak ada masalah apa-apa tuh dg anaknya.
Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa jaman terus berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan riset2 yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari 5th yg lalu, MPASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia
Berusia 4 bl. Tetapi kemudian beberapa penelitian tahun2 terakhir menghasilkan banyak hal sehingga MPASI sebaiknya diberikan >6bl.

Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai diberikan MPASI ?!
1. Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan ekstra & besar dari berbagai penyakit.
Hal ini disebabkan sistem imun bayi < 6 bl belum sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dg membuka pintu gerbang masuknay berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MPASI
Sebelum ia berumur 6 bl, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yg hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya.
2. Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem pencernaannya sudah relative sempurna dan siap menerima MPASI.
Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl.
3. Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan Saat bayi berumur < 6 bl, sel2 di sekitar usus belum siap utk kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.
4. Menunda pemberian MPASI hingga 6 bl melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan sari2 makanan yg belum sempurna.

Pada beberapa kasus yg ekstrem ada juga yg perlu tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur 6 bl.

Masih banyak yg mengenalkan MPASI < 6 bl
Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah memberikan MPASI ke anaknya sebelum berumur 6 bl ? Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MPASI < 6 bl. Umumnya banyak ibu yg beranggapan kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meski gak ada
relevansinya banyak yg beranggapan ini benar. Kenapa ? Karena belum sempurna, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk mengolah & memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus dianggap sbg anak gak kenyang. Padahal menangis bukan semata2 tanda ia lapar.

Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita spt ortu terdahulu bahwa anak saya gak papa tuh dikasih makan pisang pas kita umur 2 bl. Malah sekrg jadi orang.

Alasan lainnya juga bisa jadi juga tekanan dari lingkungan dan gak ada dukungan spt alasan di atas. Dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yg belum mengindahkan ASI eksklusif 6 bl.

Aturan MPASI setelah 6 bulan : Karena < 6 bl mengandung resiko
Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap anak itu beda. Bisa jadi gak jadi masalah utk kita tapi belum tentu utk yg lain.
Misalkan, ilustrasinya sama spt aturan cuci tangan sebelum makan. Ada anak yg dia tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan. Padahal ia baru bermain2 dengan tanah dsb. Tapi ia tidak apa2. Sedangkan satu waktu atau di anak yg lain, begitu ia melakukan hal tsb ia langsung mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yg masuk ke makanan melalui tangannya. Demikian juga dengan pemberian MPASI pada anak terlalu dini. Banyak yang merasa ”anak saya gak masalah tuh saya kasih makan dari umur 3 bulan”. Sehingga hal tsb menjadi ”excuse” atau alasan utk tidak mengikuti aturan yg berlaku. Padahal aturan tsb dibuat karena ada resiko sendiri. Lagipula penelitan ttg hal ini terus berlanjut. Saat ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih terbatas dan ”kurang” bagi beberapa kalangan. Tapi di kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang.

Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda memberikan MPASi pada anak < 6 bulan bukan hanya berlaku utk bayi yg mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula atau mixed).
Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu. Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MPASI < 6 bl, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal tsb.

Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan MPASi < 6 bl ataupun > 6bl, alangkah baiknya dipertimbangkan dg baik untung ruginya bagi anak, bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yg diambil adalah yg terbaik utk sang anak.

ASI Exclusive

Kalau inget ini pasti sueddihh rasanya, karena pas hamil 8 bulan aku kena pre-Eclampsia dan akhirnya harus melahirkan lewat caesar, dan setelahnya masih harus minum obat penurun tekanan dengan dosis tinggi .. daaannn ga boleh ngasih ASI dulu sampai selesai minum obat dokter.
Karena ke-tidak tahuanku tentang ASI, akhirnya karena capek mompa ASI .. genap 1 bulan ASIku mampet .. pett.. pet..., padahal setelah aku selesai minum obat dokter (1,5 bulan) seharusnya anakku menerima "Hak" nya untk mendapat ASI ...
Aku hanya bisa pasrah dan berdoa semoag anakku selalu diberi kesahatan walau tanpa sedikitpun mencicipi ASI. Puji Tuhan anakku sehat2 saja sampai sekarang.
Waktu itu aku blom tahu tentang re-laktasi, yaitu walaupun ASI sudah berhenti ternyata bisa di rangsang lagi supaya keluar .. OMG ...sedihnya terasa sampai sekarang.
Oleh sebab itu ayo .. galakkan ASI Exclusif.

ASI Exclusive

Menurut para ahli, sampai usia 6 bulan bayi belum membutuhkan minuman atau makanan selain ASI (ASI Eksklusif). Artinya, bayi hanya memperoleh air susu ibu saja tanpa tambahan cairan (susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan lain-lain) juga makanan lain seperti pisang, bubur, biskuit, nasi tim, dan lain-lain).

Pemberian ASI secara eksklusif ini banyak memberikan keuntungan. Itu karena ASI mengandung zat nutrisi dengan kualitas, kuantitas, dan komposisi ideal untuk pertumbuhan, kesehatan, dan kecerdasan bayi.

ASI dapat menyebabkan pertumbuhan sel otak lebih optimal, terutama karena ASI mengandung protein khusus, yaitu taurin. Juga mengandung laktosa dan asam lemak ikatan panjang dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan susu sapi/kaleng. Kandungan ASI pun menghindarkan bayi dari bahaya infeksi dan alergi. Bahkan mampu merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh pada bayi. "Jadi, sangat jelas ASI itu tidak bisa digantikan oleh apa pun," tegas dr. Utami.

Pemberian ASI Eksklusif ini dianjurkan paling kurang 4 bulan, kalau bisa sampai 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, harus mulai dikenalkan dengan makanan padat. Sedangkan ASI bisa terus dilanjutkan sampai bayi berusia satu tahun. Akan lebih baik lagi jika sampai bayi berusia 2 tahun.

12 Keunggulan ASI
1. ASI mengandung zat gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan kecerdasannya.
2. ASI mengandung kalori 65 kcal/100ml yang memberikan cukup energi bagi pertumbuhan bayi.
3. Sebanyak 90 persen kandungan lemak ASI dapat diserap oleh bayi.
4. ASI dapat menyebabkan pertumbuhan sel otak secara optimal, terutama karena kandungan protein khusus, yaitu Taurin, selain mengandung laktosa dan asam lemak ikatan panjang lebih banyak dari susu sapi/kaleng.
5. Protein ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang menyebabkan alergi untuk manusia.
6. ASI memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi. Juga akan merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh bayi.
7. Pemberian ASI dapat mempererat ikatan batin antara ibu dan bayi. Ini akan menjadi dasar si kecil percaya pada orang lain, lalu diri sendiri, dan akhirnya bayi berpotensi untuk mengasihi orang lain.
8. ASI selalu tersedia, bersih, dan segar.
9. ASI jarang menyebabkan diare dan sembelit yang berbahaya.
10.ASI lebih ekonomis, hemat, sekaligus praktis.
11.ASI dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
12.ASI dapat membantu program Keluarga Berencana.
Tampilkan postingan dengan label Seputar ASI dan Artikel ttg Makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar ASI dan Artikel ttg Makanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2011

10 Mitos Pola Makan Pada Anak

Diposting oleh Orange Cake di 01.35 0 komentar
10 Mitos Pola Makan Pada Anak

Apa iya, makanan bayi buatan pabrik lebih bagus dibanding buatansendiri? Apa iya, lebih bagus mengenalkan sayuran dulu dibanding buah? Apa iya, anak cuma suka makanan yang itu-itu saja? Bingung deh. Apalagi jika orangtua, teman, atau tetangga, memberi saran berbeda-beda. Yuk,
Teliti mana yang mitos dan mana yang fakta!

1. Mitos : Jika bayi mengalami sembelit saat disususi susu formula, ganti susu itudengan yang
rendah zat besi.
Fakta : Jumlah zat besi dalam susu formula tidak mempengaruhi fungsi pencernaan usus
bayi. Bahkan memberi susu formula rendah zat besi bisa menyebabkan bayi anemia,
yang bisa menurunkan kemampuan bayi belajar. Meski ASImengandung lebih sedikit zat besi, namun zat besi ini lebih mudah diserap dalam saluran pencernaan bayi. Sebaliknya, zat besi susu formula tak mudah diserap, sehingga mesti ditambahkan lebih banyak agar bayimemperoleh cukup zat besi. Jika bayi mengalami sembelit, diskusikan dengan dokter untuk menambahkan sedikit jus buah ke dalam menu makannya.

2. Mitos : Kalau mau mengenalkan makanan padat, gunakan makanan botolan, karena lebih sehat.
Fakta : Makanan bayi yang dikemas dalam botol gelas memang lebih praktis dan sehat.
Namun ini tidak mengandung zat-zat gizi yang lebih istimewa dibanding makanan buatan sendiri. Meski membuat makanan sendiri lebih butuh banyak waktu dan tenaga, namun ini lebih bagus sebab bayi akan kenal dengan citarasa baru yang nantinya akan sering makin familiar saat ia bertambah besar.

Awalnya, cobalah sajikan pure apel yang dimasak matang. Bisa juga pure buah pir, wortel, jagung, kentang, kacang hijau, atau kacang polong. Kita juga bisa mengenalkan pisang atau avokad yang masak. Bayam, bit, labu, sebaiknya baru diberikan setelah bayi berusia 8 bulan, karena mengandung senyawa nitrat, yang bisa mengganggu suplai oksigen oleh darah ke dalam sel-sel tubuh. Saat usia bayi 9 bulan, ia bisa mulai makan daging ayam, ikan, daging sapi, dan makanan dari kedelai seperti tempe atau tahu, yang sudah dicincang. Jangan sajikan sup kalengan, daging proses (kornet, sosis, sarden) atau makanan beku seperti nugget kepada anak di bawah 1 tahun. Kandungan garam dan zat-zat aditif yang tinggi dalam makanan ini susah dicerna bayi.

3. Mitos : Tidak baik jika anak makan daging atau telur secara teratur.
Fakta : Bagi orang dewasa, memang sebaiknya mengurangi makan daging atau telur. Namun
tidak demikian untuk anak. Daging dan telur adalah sumber protein yang sangat bagus dan memberi banyak zat besi serta mineral seng, yang penting bagi tumbuh kembang anak. Namun hindari daging fastfood, misalnya burger. Lebih baik, buat daging panggang atau bakso sendiri di rumah. Jika hendak menyajikan telur, berikan yang kuning telurnya sudah matang dan padat, bukan setengah matang. Untuk mengurangi alergi, tunda pemberian putih telur sampai usia si kecil 1 tahun.
4. Mitos : Jika anak menolak makanan, jangan sajikan makanan itu lagi!
Fakta : Beberapa penelitian menunjukkan, batita bisa saja perlu disajikan makanan yang sama
sampai 15 kali sebelum ia mau memakannya. Jika batita menolak makanan yang kita sajikan, jangan diambil hati. Reaksinya bisa jadi lebih karena terkejut, bukan karena tidak menyukai. Dan biasanya batita menolak makanan baru karena tekstur atau aromanya, bukan rasanya. Cobalah sajikan lagi. Bagus juga jika ibu menyajikan makanan baru yang berbeda selama beberapa kali. Untuk mengurangi penolakan, sajikan makanan baru bersama makanan lama yang jadi favoritnya.

5. Mitos : Anak suka makan makanan yang sama lagi dan lagi.
Fakta : Jika batita menyukai makanan tertentu selama berhari-hari atau berminggu-minggu,
mungkin kita bepikir mitos itu benar. Anak memang suka mengulang makan makanan yang sama. Namun anak juga punya naluri yang kuat untuk mencoba citarasa baru. Makin banyak anak ditawari jenis makanan, makin suka pula ia dengan makanan-makanan itu. Jadi, sajikan sayur-sayuran, buah, atau jenis daging yang baru kepadanya, dengan cara yang agak beda. Misal, taburkan daging ayam yang disuwir-suwir ke dalam salad buah. Taburkan keju atau saus dressing ke atas brokoli kukus.
Atau tambahkan wortel pada saus spaghetti. Ajaklah anak ke supermarket dan biar ia memilih sayuran mana yang disukainya, lalu masaklah bersama-sama. Anak pasti akan menghargai dan menyukai sayur yang dipilihnya sendiri. Bisa juga, tanamlah sayur-sayuran di halaman rumah bersama anak, sehingga saat nantinya dipetik dan dimasak, anak menyukainya.

6. Mitos : Lebih baik mengenalkan sayur lebih dulu, bukan buah. Kalau tidak, rasa manis buah
akan membuat anak tak suka sayur.
Fakta : Tak ada bukti kalau memberikan buah lebih dulu akan menurunkan minat anak makan
sayuran. Namun apapaun yang ibu kenalkan lebih dulu, kenalkan makanan baru secara bertahap. Cobalah makanan yang berbeda setiap 3-4 hari, lalu monitor si kecil untuk memastikan ia tdk mengalami ruam/sakit perut, yg merupakan tanda2 alergi.

7. Mitos : Anak-anak tidak memerlukan suplemen.
Fakta : Umumnya orang beranggapan, pola makan yang sehat akan menyuplai anak semua zat
gizi yang ia perlukan. Namun menurut studi di AS saja, 50% anak di sana kekurangan minimal satu jenis vitamin atau mineral, dan 11% anak malah agak anemia. Cobalah diskusikan dengan dokter mengenai suplemen multivitamin dan mineral yang cocok untuk anak. Jika anak memang membutuhkan, belilah suplemen yang memberikan kandungan vitamin atau mineral antara 50-150% RDA (kecukupan harian yang dianjurkan).

8. Mitos : Batasi jumlah makan anak supaya ia tidak kegemukan.
Fakta : Anak-anak umumnya bagus dalam mengontrol pemasukan makan mereka. Membatasi
porsi makan anak malah justru berdampak negatif. Jika anak terbiasa lapar secara rutin, mereka pun akan belajar untuk mengenyangkan diri kapan saja saat tersedia banyak. Ini malah bisa menjadi kebiasaan yang menimbulkan problem berat badan. Bagi anak yang memang kelebihan berat badan, tetap sajikan makanan yang tinggi kalori seperti makaroni, keju, cake, namun batasi jumlahnya saat makan besar. Tambahkan lebih banyak buah dan sayuran, sehingga anak tetap
merasa kenyang. Selalu ajak juga anak untuk berolah raga bersama.

9. Mitos : Jangan memaniskan sayuran (misal dengan menambahkan gula). Nanti anak tidak mau
makan sayuran yang tawar.
Fakta : Sayuran membantu melindungi anak dari sembelit, kanker, dan penyakit jantung, dan
kita sebaiknya mendorong anak untuk mengonsumsinya, dengan berbagai cara yang kita bisa. Jika anak terbiasa makan sayuran secara teratur, ia nantinya akan menyukai sayuran, meski rasanya tak manis. Jadi, tak perlu merasa bersalah untuk menambahkan sedikit gula pada kacang-kacangan atau polong-polongan, susu pada brokoli, atau madu pada labu atau buncis. Kita juga bisa menggunakan taktik yang sama pada buah. Irislah kiwi atau nanas dan tutupi dengan gula berwarna atau madu.
Sejumlah kecil gula ini tak akan menimbulkan karies gigi, jika diberikan bersama makanan yang sehat dan bukan sebagai cake.

10. Mitos : Supaya anak tak mengalami karies gigi, sebaiknya jangan mengenalkan makanan manis
sejak kecil.
Fakta : Melarang anak makan yang manis2 justru tindakan yang salah. Ini hanya membuat
anak makin ingin makan makanan manis itu. Lebih bagus, ajarkan kepada anak bahwa sesekali makan makanan bergula seperti cookie atau permen bisa menjadi bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan. Namun jg menyetok makanan2 itu dlm kulkas atau lemari makan. Lebih baik sediakan kismis, buah segar, yogurt buah, jeruk, pir, melon, cracker yg tdk manis, roti tawar dari biji gandum utuh, susu pasteurisasi, dan semacamnya. Berikan sebagai cemilan atau dessert. Jika anak terbiasa makan cookie, donat, atau permen, anak mungkin akan menolak cemilan-cemilan ini, namun tetapkah sajikan dengan konsiten. (TG)

Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya

Diposting oleh Orange Cake di 01.34 0 komentar
Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya
APLNews Edisi 18

Masa pemberian makan pertama pada anak batita (bayi di bawah tiga tahun-red) yaitu biasanya ketika memasuki usia 6 bulan terkadang menimbulkan reaksi penolakan. Salah satu reaksi penolakan seperti fenomena gumoh hingga muntah. Alhasil, Ibu pun dibuat bingung menghadapi
prilaku anak di bawah setahun yang kerap kali memuntahkan makanan yang baru saja disuapkan. Bila si ibu kurang sabar dan tidak telaten, peristiwa yang dalam istilah jawa disebut gumoh ini, terkadang membuat si ibu jengkel. Padahal terdapat perbedaan antara gumoh dan memuntahkan
makanan. Karena terjadi pada usia yang masih kecil, hingga perbedaan ini tidak begitu terlihat, untuk itu orang tua perlu mengetahui perbedaan antara gumoh dan muntah.

Menurut Dr. Kishore R.J, dari - Poliklinik Anak RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, fenomena gumoh terjadi pada semua bayi usia di bawah setahun, begitu setahun lewat kejadian ini berhenti. Namun terkadang, menurutnya ada pula diusia di atas 6 bulan pun gumoh sudah mulai berkurang. Kecuali bayi-bayi di bawah 6 bulan, terutama bayi yang baru lahir. "Sebenarnya, soal gumoh ini tak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya saja orang tua harus tahu apa penyebabnya dan kemudian segera mengatasinya,"ujar Dr. Kishore.

Beda Gumoh dan Muntah
Apa sebenarnya yang menyebabkan bayi anda mengalami gumoh ? Masih menurut Dr. Kishore, gumoh terjadi karena ada satu organ, yang berfungsi untuk menyalurkan makanan ke lambung, berbentuk seperti cincin yang fungsinya seperti klep, belum sepenuhnya berfungsi sempurna. "Sehingga bila si bayi minum, terus ditidurkan, lalu ngulet...nah kemudian ada cairan yang keluar. Pada saat makanan keluar, bayi refleks untuk memuntahkan yang kita kenal dengan istilah gumoh,"terangnya. Menurutnya beda antara muntah dengan gumoh yang keluar sedikit-sedikit, muntah keluar dengan sekuat tenaga dan disertai mual-mual.

Adakalanya gumoh terjadi bila bayi merasa kesal karena tak bisa menelannya hingga ia pun menangis. "Seringkali bila hal ini terjadi, pengasuh atau orang tua malah memaksakan pemberiannya. Misal, dengan menaruh si bayi di posisi mendatar, lalu mencekoki makanannya. Otomatis bayi akan membatukkannya hingga terjadi muntah. Peristiwa ini berbahaya sekali, karena saat itu makanan bisa masuk ke saluran napas dan menyumbatnya hingga berakibat fatal,"ujar Kishore memperingatkan. Mengomentari terjadinya gumoh ini, dr. Kishore berpesan, bahwa gumoh adalah gejala alami sangat natural dan terjadi pada setiap bayi, sehingga kita tidak bisa mencegahnya. "Yang bisa kita cegah adalah komplikasinya,"demikian terang Dr. Kishore. Yang berbahaya dari gumoh itu menurutnya seandainya, bila ada air susu yang masuk ke lambung. Di lambung itu ada asam lambung, sehingga susu itu bercampur dengan asam lambung. Kalau itu keluar, dari mulut atau dari hidung, posisi bayi segera dimiringkan atau ditengkurapkan biar tidak tertelan masuk ke paru-paru. Kalau masuk ke paru-paru itu yang bahaya !

Untuk meminimalkan gumoh, Dr. Kishore menyarankan, pada saat pertengahan pemberian minum, kalau perlu disendawakan supaya udaranya keluar baru si (bayi) minum. Tapi itu tidak menjamin tidak akan terjadi gumoh Gumoh tidak disebabkan oleh minuman/makanan tertentu, namun untuk muntah mungkin saja dipicu oleh makanan, misalnya ada makanan yang terlalu asam, ada yang terkontaminasi bakteri, ada yang keracunan, semua itu bisa menyebabkan muntah, tapi tidak gumoh.

Makan Dipaksa, Picu Trauma
Bila anak kerap muntah saat diberi makan, kemungkinan ada beberapa faktor, yang menyebabkannya. Yang sering terjadi adalah feeding problem atau problem pemberian makan. Khusus menyoroti feeding problem ini, biasanya terjadi dalam keluarga yang kedua orang tuanya bekerja sehingga anak diasuh oleh baby sister-nya. Saat ke dokter dan diketahui bobot anak berkurang akhirnya si baby sister di beri tugas memperbaiki bobot anak.

Biasanya yang terjadi kemudian, adalah menempuh cara paksa, peristiwa tersebut malah membuat anak trauma,"Melihat makanan aja sudah membuat anak ingin muntah. Wah, dijejelin lagi nih, begitu pikir anak, jadi itu salah satu penyebabnya,"tambah Kishore.
Selain trauma, penyebab kedua anak susah makan adalah penyakit. Untuk yang satu ini memang harus ditangani oleh dokter. Kemudian yang ketiga adalah faktor psikologi, yaitu si kecil merasa makan itu bukan urusannya. Kondisi ini terjadi ketika seluruh anggota keluarga menyuruh si kecil untuk makan, bapak, ibu, kakek, nenek, om, tante semua menyuruh makan, hingga si kecil berpikir makan bukanlah urusannya. Hal ini juga bisa membuat anak muntah-muntah, karena punya riwayat waktu kecil sering dipaksa.

Seharusnya orang tua membiasakan mengajak anak duduk bersama sewaktu bapak dan ibunya makan. Mungkin selama acara makan berlangsung, mejanya makan akan berantakan dengan ulahnya. Kebanyakan yang terjadi adalah, orang tua memarahi anak. Ini bisa membuat anak trauma.
Asalkan anak tidak mencoba meraih sambal, lebih baik orang tua membiarkan saja anak mengambil makanan yang mau dicobanya. Dengan mengajaknya makan bersama justru mengajarnya mandiri. Cara makan bersama keluarga atau makan bersama teman sebaya akan lebih efektif merangsang
anak untuk makan dibanding dengan cara paksa / menjejelin yang malah membuatnya trauma, karena anak akan berpikir makan bukanlah urusannya.

Beri makan secara bertahap
Dr. Kishore menyarankan untuk usia 4-6 bulan pertama, bila mungkin cukup diberi ASI eksklusif saja tanpa pemberian makanan tambahan atau susu formula. Tapi kalau satu dan lain hal ASI tidak bisa diberikan, maka selama 4 bulan pertama bayi diberikan susu formula, tanpa makanan padat !
Setelah 4 bulan, baru mulai diperkenalkan makanan di luar susu, yang lebih dikenal dengan makanan pendamping, karena memang belum menjadi makanan pokok. Hingga bayi berusia setahun, susu -baik ASI maupun bubuk- tetap menjadi makanan pokok. Buah dikategorikan sebagai makanan pendamping jadi porsinya hanya untuk memperkenalkan saja.

Setelah 6 bulan, baru kita bisa mulai dengan bubur tim yang dapat dicampur dengan ayam, hati ayam dan sayur. Kemudian kita juga dapat memodifikasi rasa di luar manis. Kalau selama 6 bulan ia hanya kenal yang manis kecuali buah, kita kenalkan dengan yang tidak manis.

Setelah setahun, baru kita harapkan balita boleh memakan bubur lembek, makanan tidak perlu diblender lagi. Nah, setelah setahun makanan pokok bayi bukan susu lagi, susu diberikan maksimal 3 kali.


Faktor Penyebab Gumoh dan Muntah pada Bayi:
1. Refleks Menelan Belum Bagus
Bila karena refleks menelannya memang belum bagus, terang Kishore lebih lanjut, ketika
makanan ditaruh di bagian depan lidahnya, si bayi berusaha menelannya dengan menjulurkan
lidahnya. Namun bukannya bisa masuk, malah makanannya jadi keluar lagi. Seperti halnya bayi
mau belajar merangkak, kadang jalannya bukannya maju malah mundur karena koordinasi
motoriknya belum bagus. Sementara kalau dia mengisap ASI, tak jadi masalah, karena puting
ada di belakang lidahnya. "Tentunya tak mungkin kita taruh makanan di belakang lidahnya,
bukan?"
Refleks menelan ini, papar Kishore, akan membaik dengan sendirinya. Tergantung kemampuan
masing-masing bayi dalam menelan. Umumnya di atas usia 6 bulan. Jika refleks menelannya
belum baik dan bayi belum bisa menelan makanan padat, kita bisa mengatasinya dengan
mengencerkan lagi makanannya dengan cara memblender hingga mudah baginya untuk menelan.

2. Tak Kenal Dengan Makanannya
Jika bayi tak kenal atau tak suka dengan makanannya, baik yang semi padat ataupun padat,
tentu akan ditolaknya. "Selama ini makanan yang diterima bayi selalu dalam bentuk cair.
Sementara kini dia mulai mendapatkan makanan yang agak kental, semisal bubur susu, atau
Makanan agak padat, semisal nasi tim. Nah, karena tak kenal, pasti awalnya akan ditolaknya,"
papar Kishore.
Bila demikian kejadiannya, pemberiannya harus dimundurkan dengan cara agak diencerkan lagi.
"Jangan memaksakan bayi dengan kemauan kita karena akan membuatnya trauma. Bisa jadi
setiap kali melihat mangkuk makanan, dia jadi menangis karena takut dijejalkan."

3. Rasanya Berbeda
Ada pula bayi yang menolak nasi tim karena rasanya yang berbeda. Jangan lupa, selama 6 bulan
pertama, bayi kenalnya hanya rasa manis. Nah, nasi tim tak manis seperti halnya bubur susu,
kan? Jadi, ada kemungkinan dia tak suka karena rasanya tak manis. Kalau bayi tak suka karena
tak mengenal rasa nasi tim tersebut, bisa diupayakan agar si bayi belajar mengenal rasa. Jadi,
rasanya yang harus diubah dan divariasikan. Misal, awalnya nasi tim tersebut diberi tambahan
glukosa atau yang paling mudah adalah kecap manis, hingga rasa nasi tim tersebut masih ada
manisnya. Semakin lama, kecapnya agak dikurangi hingga bayi mengenal rasa nasi tim yang lain.
Muntah juga bisa terjadi, misal, karena bayi kekenyangan makan atau minum ataupun karena
bayinya mengulet hingga tekanan di perutnya tinggi, akibatnya susunya keluar lagi.

4. Gangguan Sfingter
Sementara bila karena ada gangguan di saluran cernanya, kita tahu bahwa pada saluran
pencernaan itu ada saluran makan (esopnagus), yang berawal dari tenggorokan sampai lambung.
pada saluran yang menuju lambung ini ada semacam klep atau katup yang dinamakan sfingter.
Fungsinya untuk mencegah keluarnya kembali makanan yang sudah masuk ke lambung.
Umumnya sfingter pada bayi belum bagus dan akan membaik dengan sendirinya sejalan
bertambahnya usia. Umumnya di atas usia 6 bulan. Namun, adakalanya di usia itu pun si bayi
masih mengalami gangguan. Jadi, sifatnya sangat bervariasi. Tentunya, kalau sfingter tak bagus,
maka makanan yang masuk ke lambung bisa keluar lagi. Gejalanya biasanya kalau pada bayi akan
lebih sering gumoh, terutama sehabis disusui.
Apalagi bila ia ditidurkan dengan posisi telentang. Ingat, cairan selalu mencari tempat yang
paling rendah, bukan? Begitupun bila setiap kali diberi makanan padat muntah, harus dicurigai
sfingter-nya tak bagus. Apalagi bila berat badan bayinya tak naik-naik, misal selama 1-2 bulan.
Kadang ada juga sfingter dengan gangguan, yang disebut hipertropi pylorus stenosis, yaitu
adanya otot pylorus yang menebal hingga makanan akan susah turun dari lambung ke usus,
akhirnya keluar muntah.
Gejalanya, tiap kali diberikan makanan padat akan muntah. Tapi kalau makanan cair tidak. Selain
itu, berat badannya pun sulit naik. Jika gangguannya berat, makanan cair pun biasanya tak bisa
lewat, hingga menganggu pertumbuhan si bayi karena tak ada penyerapan makanan.
Biasanya kalau kejadiannya demikian, harus dilakukan tindakan operasi secepatnya untuk
memperbaiki klepnya hingga saluran makanan dari lambung ke usus bisa jalan dengan lancar.
Namun kalau gangguannya ringan saja, misal, muntahnya jarang dan setelah dilakukan
pemeriksaan dengan rontgen atau USG ditemui hipertropi sfingter ringan, berat badan anak
tetap naik. Biasanya kalau kasusnya demikian, tindakan operasi bisa ditunda. Diharapkan dengan
bertambahnya usia, bayi mulai berdiri tegak hingga makanan lebih mudah turun.


Tips Menghadapi Bayi Muntah
Jika bayi muntah, saran, cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke saluran napas yang dapat menyumbat dan berakibat fatal.

Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tak perlu khawatir. "Ini berarti muntahnya keluar. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru- paru dan menyumbat jalan napas. Jika ada muntah masuk ke paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa, kecuali membawanya segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut."

Menyiasati Anak Sulit Makan

Diposting oleh Orange Cake di 01.31 0 komentar
Menyiasati Anak Sulit Makan
Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
Jakarta, 8 Maret 2002


Ibu : "A lagi ya, satu lagi aaanya, yah satu lagi yah"
Anak : "Nggak mau, udah kenyang"
Ibu : "Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya,
tinggal sedikit kan. Satu lagi
Anak : "Nggak mau ah, udah kenyaaaaaaaaaaaang"

Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat familiar di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti hamburger, fried chicken, french fries), dan makanan yang tasty (misalnya chiky, cheetos) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.

Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?

Komponen Utama Sumber Energi
Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.

Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).

Bagaimana dengan makanan siap saji atau junk food? Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.

Mengapa Anak Menolak Makan?
Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu
Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan yaitu :

1. Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan
nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar.
2. Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri.
3. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua
4. Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut.
5. Menu tidak bervariasi sehingga anak merasa bosan dengan makanan yang terhidang atau bentuk makanan tidak menarik.
6. Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman.
7. Anak sedang sakit

Sementara itu, bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa :
a. Memuntahkan makanan
b. Makan berlama-lama dan memainkan makanan. Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.
c. Sama sekali tidak mau makan.
d. Menumpahkan makanan.
e. Menepis suapan dari orangtua

Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua
Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya :
- Membujuk. Misalnya dengan kata-kata: "makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti
popeye", "kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa
pintar loh", dll.
- Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main.
- Memberi janji, misalnya: "kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream"
- Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh"
- Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan
- Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar.
- Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu.

Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan Orangtua
Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.
Lalu apa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk membuat anak mau makan dan tidak kekurangan sumber energi yang dibutuhkan tubuhnya? Berikut ini beberapa saran yang dapat anda lakukan jika menghadapi anak yang sulit makan :

1. Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan.
Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu
makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih
diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga
tidak terjadi obesitas.
2. Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.
3. Mempercantik tampilan makanan. Contohnya, dalam sebuah iklan di TV, ada orangtua yang menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.
4. Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa "anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru".
5. Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.
6. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.
7. Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.
8. Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.
9. Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.
10. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat perlu lagi memaksa anak untuk makan

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat. Tulisan ini mungkin dapat menjadi suatu informasi yang berguna bagi anda para orangtua yang peduli terhadap kesejahteraan anaknya. Selamat mencoba.

Konsep pemberian makan pada bayi

Diposting oleh Orange Cake di 01.29 0 komentar
Konsep pemberian makan pada bayi


1. TRAINING
Makan pada anak bukan sekedar memberikan kalori dan nutrisi tetapi juga merupakan proses berlatih dan mengenal dunia. Berlatih menelan, berlatih mengenal rasa. Usahakan anak makaan tidak digendong2 sambil pengasuhnya berjalan jalan. Latih makan di tempat makan sehingga dia akan mengerti bila saatnya makan tiba, dia harus duduk/didudukkan. Jangan biasakan makan sambil menonton TV

2. ENTERTAINING
Seyogyanya makan merupakan moment yang menyenangkan oleh karena itu - jangan ada unsur pemaksaan (dicekok). Kalau anak sudah bisa duduk tegak dengan dibantu ditopang, dudukkan di kursi bayi (high chair) setiap malam untuk menikmatai suasanan makan malam bersama orang tuanya.
Bukan untuk benar2 makan tetapi tetap berikan piring dan sendok. Sehingga kalau dia besar nanti dia akan senantiasa merindukan suasana kebersamaan pada saat makan malam Masak makanan jangan sekaligus, di tempat terpisah. Demikian juga piringnya berkotak2 agar ada tempat khusus untuk karbohidrat-protein, untuk sayur, dan untuk kuah

3. VARIETY
Makanan harus bervariasi. Biasakan membuat menu harian untuk satu minggu. Yang harus diperhatikan - komposisi makanan itu harus 4 sehat lima sempurna - jenisnya bervariasi selama memenuhi komposisi tersebut.

4. HEALTHY
Makanan yang mengandung semua komposisi yang dibutuhkan bayi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral). Upayakan makanan buatan sendiri sehingga senantiasa segar tanpa pengawet dan tanpa pemberi rasa artificial/kimiawi. Pada saat memberikan sayur, jangan dicampur dengan
makanan lainny sehingga anak sejak dini sudah mengenal rasa sayur. Sayur ada;ah makanan sehat dan bajnyak anak Indonesia tidak suka makan sayur.
Hal ini sangat disayangkan. Oleh karena itu penting memperkenalkan sayur sejak dini. Hindarkan pemakaian garam kalau bisa sampai usia 1 tahun. Bayi juga jangan dibiasakan makan makanan yang manis/gula. Usia 6 bulan makanan lembut tetapi sesudah itu berangsur angsur menjadi kasar. Usia 1 tahun sudah dapat mengkonsumsi makanan kita. Jangan berikan snack karena dapart mengurangi nafsu makan saat makan besar. Kalaupun akan memberikan snack - berikan yang sehat (buah, sayur mis timun, labu siam kukus, wortel).
Setiap memperkenalkan makanan baru, satu saja jangan diberikan lebih dari satu makanan baru dalam 1 hari. Kalau bayi mengalami reaksi alergi kita bisa mengetahui dengan pasti terhadap apa dia alergi.


5. JADWAL
Makan 3 kali sehari, pagi - siang - malam/sore. Pagi makanan setengah berat (bubur susu, oat meal, roti, biskuit) Siang buah padat dicampur susu (alpukat, apel kukus, pear kukus, labu kuning/pumpkin kukus) Sore - makan berat. Kentang kukus dengan susu dan parutan keju (mashed potato), ubi kukus dihaluskan tambah susu, jagung sisir kukus tambah susu dan keju, nasi (tim) Selingan satu kali (pagi atau sesudah makan siang) air buah

6. JENIS MAKANAN BERDASARKAN KOMPOSISI MAKANAN SEHAT
a. Karbohidrat
Tepung beras, tepung maizena, biskuit, kentang, ubi merah, jagung, makaroni, roti, oat meal,
nasi (bubur atau tim)
Cara masak : tepung dimasak dengan air sampai matang baaru masukkan susu (formula atau ASI) Kentang, ubi, jagung manis disisir, dikukus. Haluskan, campurkan susu, tambahkan parutan keju Roti tambaah susu, blender Oat meal dimasak dengan air sampai lembut. Matikan api masukkan susu

b. Protein – lemak
Susu, yoghurt, kuning telur (ambil setelah telur direbus), keju parut, kacang merah, kacang
hijau, tempe, tahu, ayam cincang (tanpa kulit), daging cincang (pilih daging tanpa lemak, cincang
sendiri), ati, ikan.
Cara masak : Yoghurt dimakan dengan buah Ayam/daging dan tahu tempe dimasak bersama
makaroni atau dikukus, campurkan dengan kentang, jagung.
Buat sup bening biasa (ayam/daging), sup krim jagung, sup kacang merah/hijau, blender, campur
susu.

c. Vitamin – mineral
BUAH : pisang, jeruk, pepaya, pear, apel, melon, semangka, mangga, alpukat
SAYUR : kacang polong, wortel, brokoli, bayam, labu siam, kangkung, buncis, kembang kol,
sawi hijau
Cara masak : Pear, apel, dikukus, sayur dikukus, dihancurkan, atau di blender


7. MAKANAN PADA KONDISI KHUSUS
Diare : makanan tanpa sayur (tanpa serat) 2-3 hari
Muntah : makanan volume lebih sedikit tetapi lebih sering. Kalau perlu susu diencerkan sedikit
(supaya tidak mual) Panas dan pasien tak mau minum atau seriawan: susu agak diencerkan,
air buah, jus buah agak kental buat sebagai es batu. Kalau di atas 6 bulan, bubur kacang
hijau dengan susu, blender, buat es. Fruit milk shake - buah dengan es krim vanilla dan
susu, diblender (kalori besar, sama dengan satu mangkok nasi). Puding dingin dengan susu
dan telur kuning.

Resiko pemberian makanan terlalu dini

Diposting oleh Orange Cake di 01.29 0 komentar
Resiko pemberian makanan terlalu dini
Resiko Pemberian MPASI Terlalu Dini
(sumber : milis _SEHAT_)
(Dirangkum & ditulis bebas oleh Luluk Lely Soraya I, 26 March 2005)


Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) di usia < 6 bl. Bahkan banyak dari kita tidak pernah tahu mengapa WHO & IDAI mengeluarkan statement bahwa ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan air putih sekalipun) diberikan pada 6 bl pertama kehidupan seorg anak. Kemudian setelah umur 6
bulan anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur susu, nasi tim, buah, dsb.

Alasan menunda pemberian MPASI

Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak sampai ia berumur 6 bl ?!
Kalo jaman dulu (baca : sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bl) umur 4 bl aja dikasih makan bahkan ada yg umur 1 bl. Dan banyak yang berpendapat gak ada masalah apa-apa tuh dg anaknya.
Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa jaman terus berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan riset2 yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari 5th yg lalu, MPASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia
Berusia 4 bl. Tetapi kemudian beberapa penelitian tahun2 terakhir menghasilkan banyak hal sehingga MPASI sebaiknya diberikan >6bl.

Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai diberikan MPASI ?!
1. Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan ekstra & besar dari berbagai penyakit.
Hal ini disebabkan sistem imun bayi < 6 bl belum sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dg membuka pintu gerbang masuknay berbagai jenis kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MPASI
Sebelum ia berumur 6 bl, lebih banyak terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yg hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya.
2. Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem pencernaannya sudah relative sempurna dan siap menerima MPASI.
Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl.
3. Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada makanan Saat bayi berumur < 6 bl, sel2 di sekitar usus belum siap utk kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.
4. Menunda pemberian MPASI hingga 6 bl melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan sari2 makanan yg belum sempurna.

Pada beberapa kasus yg ekstrem ada juga yg perlu tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini. Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur 6 bl.

Masih banyak yg mengenalkan MPASI < 6 bl
Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah memberikan MPASI ke anaknya sebelum berumur 6 bl ? Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MPASI < 6 bl. Umumnya banyak ibu yg beranggapan kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meski gak ada
relevansinya banyak yg beranggapan ini benar. Kenapa ? Karena belum sempurna, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk mengolah & memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus dianggap sbg anak gak kenyang. Padahal menangis bukan semata2 tanda ia lapar.

Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita spt ortu terdahulu bahwa anak saya gak papa tuh dikasih makan pisang pas kita umur 2 bl. Malah sekrg jadi orang.

Alasan lainnya juga bisa jadi juga tekanan dari lingkungan dan gak ada dukungan spt alasan di atas. Dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yg belum mengindahkan ASI eksklusif 6 bl.

Aturan MPASI setelah 6 bulan : Karena < 6 bl mengandung resiko
Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap anak itu beda. Bisa jadi gak jadi masalah utk kita tapi belum tentu utk yg lain.
Misalkan, ilustrasinya sama spt aturan cuci tangan sebelum makan. Ada anak yg dia tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan. Padahal ia baru bermain2 dengan tanah dsb. Tapi ia tidak apa2. Sedangkan satu waktu atau di anak yg lain, begitu ia melakukan hal tsb ia langsung mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yg masuk ke makanan melalui tangannya. Demikian juga dengan pemberian MPASI pada anak terlalu dini. Banyak yang merasa ”anak saya gak masalah tuh saya kasih makan dari umur 3 bulan”. Sehingga hal tsb menjadi ”excuse” atau alasan utk tidak mengikuti aturan yg berlaku. Padahal aturan tsb dibuat karena ada resiko sendiri. Lagipula penelitan ttg hal ini terus berlanjut. Saat ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih terbatas dan ”kurang” bagi beberapa kalangan. Tapi di kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang.

Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda memberikan MPASi pada anak < 6 bulan bukan hanya berlaku utk bayi yg mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula atau mixed).
Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu. Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MPASI < 6 bl, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal tsb.

Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan MPASi < 6 bl ataupun > 6bl, alangkah baiknya dipertimbangkan dg baik untung ruginya bagi anak, bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yg diambil adalah yg terbaik utk sang anak.

ASI Exclusive

Diposting oleh Orange Cake di 00.36 0 komentar
Kalau inget ini pasti sueddihh rasanya, karena pas hamil 8 bulan aku kena pre-Eclampsia dan akhirnya harus melahirkan lewat caesar, dan setelahnya masih harus minum obat penurun tekanan dengan dosis tinggi .. daaannn ga boleh ngasih ASI dulu sampai selesai minum obat dokter.
Karena ke-tidak tahuanku tentang ASI, akhirnya karena capek mompa ASI .. genap 1 bulan ASIku mampet .. pett.. pet..., padahal setelah aku selesai minum obat dokter (1,5 bulan) seharusnya anakku menerima "Hak" nya untk mendapat ASI ...
Aku hanya bisa pasrah dan berdoa semoag anakku selalu diberi kesahatan walau tanpa sedikitpun mencicipi ASI. Puji Tuhan anakku sehat2 saja sampai sekarang.
Waktu itu aku blom tahu tentang re-laktasi, yaitu walaupun ASI sudah berhenti ternyata bisa di rangsang lagi supaya keluar .. OMG ...sedihnya terasa sampai sekarang.
Oleh sebab itu ayo .. galakkan ASI Exclusif.

ASI Exclusive

Menurut para ahli, sampai usia 6 bulan bayi belum membutuhkan minuman atau makanan selain ASI (ASI Eksklusif). Artinya, bayi hanya memperoleh air susu ibu saja tanpa tambahan cairan (susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan lain-lain) juga makanan lain seperti pisang, bubur, biskuit, nasi tim, dan lain-lain).

Pemberian ASI secara eksklusif ini banyak memberikan keuntungan. Itu karena ASI mengandung zat nutrisi dengan kualitas, kuantitas, dan komposisi ideal untuk pertumbuhan, kesehatan, dan kecerdasan bayi.

ASI dapat menyebabkan pertumbuhan sel otak lebih optimal, terutama karena ASI mengandung protein khusus, yaitu taurin. Juga mengandung laktosa dan asam lemak ikatan panjang dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan susu sapi/kaleng. Kandungan ASI pun menghindarkan bayi dari bahaya infeksi dan alergi. Bahkan mampu merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh pada bayi. "Jadi, sangat jelas ASI itu tidak bisa digantikan oleh apa pun," tegas dr. Utami.

Pemberian ASI Eksklusif ini dianjurkan paling kurang 4 bulan, kalau bisa sampai 6 bulan. Setelah bayi berusia 6 bulan, harus mulai dikenalkan dengan makanan padat. Sedangkan ASI bisa terus dilanjutkan sampai bayi berusia satu tahun. Akan lebih baik lagi jika sampai bayi berusia 2 tahun.

12 Keunggulan ASI
1. ASI mengandung zat gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan kecerdasannya.
2. ASI mengandung kalori 65 kcal/100ml yang memberikan cukup energi bagi pertumbuhan bayi.
3. Sebanyak 90 persen kandungan lemak ASI dapat diserap oleh bayi.
4. ASI dapat menyebabkan pertumbuhan sel otak secara optimal, terutama karena kandungan protein khusus, yaitu Taurin, selain mengandung laktosa dan asam lemak ikatan panjang lebih banyak dari susu sapi/kaleng.
5. Protein ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang menyebabkan alergi untuk manusia.
6. ASI memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi. Juga akan merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh bayi.
7. Pemberian ASI dapat mempererat ikatan batin antara ibu dan bayi. Ini akan menjadi dasar si kecil percaya pada orang lain, lalu diri sendiri, dan akhirnya bayi berpotensi untuk mengasihi orang lain.
8. ASI selalu tersedia, bersih, dan segar.
9. ASI jarang menyebabkan diare dan sembelit yang berbahaya.
10.ASI lebih ekonomis, hemat, sekaligus praktis.
11.ASI dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
12.ASI dapat membantu program Keluarga Berencana.